Influencer media sosial telah menjadi kekuatan yang kuat dalam lanskap digital saat ini, membentuk tren dan mendorong perilaku konsumen dengan konten pilihan mereka dan kepribadian yang menarik. Mulai dari fashion, makanan, hingga perjalanan, para influencer ini memiliki kemampuan untuk menjangkau jutaan pengikut hanya dengan beberapa klik tombol.
Salah satu tren yang semakin populer di kalangan influencer media sosial adalah “sultanking”. Tren ini melibatkan influencer yang memposting foto diri mereka berpose seperti bangsawan, dengan sikap anggun dan canggih. Istilah “sultanking” adalah plesetan dari kata “sultan”, yang mengacu pada penguasa atau pemimpin di beberapa budaya Timur Tengah dan Asia.
Tren ini telah dianut oleh para influencer dari seluruh dunia, yang telah memasukkan unsur kemewahan dan kemewahan ke dalam akun media sosial mereka. Dari pakaian yang rumit hingga latar yang mewah, foto-foto sultan memancarkan kesan berkuasa dan berwibawa, membuat para influencer tampak seperti bangsawan zaman modern.
Maraknya kesultanan dapat dikaitkan dengan semakin besarnya keinginan untuk melarikan diri dan berfantasi di dunia yang semakin kacau dan tidak menentu. Dengan menggambarkan diri mereka sebagai sosok yang kuat dan glamor, influencer mampu menawarkan pengikutnya pelarian sementara dari kesulitan hidup sehari-hari.
Selain itu, foto sultanking memungkinkan influencer untuk menunjukkan kreativitas dan gaya pribadi mereka, saat mereka bereksperimen dengan berbagai pose, pakaian, dan pengaturan untuk menciptakan gambar yang menakjubkan secara visual. Tingkat seni dan perhatian terhadap detail ini telah membantu foto-foto sultan menonjol di lanskap media sosial yang ramai, menarik pengikut dan merek yang ingin berkolaborasi dengan influencer.
Namun, sultanking bukannya tanpa kritik. Beberapa orang berpendapat bahwa tren ini mempromosikan gaya hidup yang dangkal dan materialistis, mendorong pengikutnya untuk menginginkan standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis. Yang lain percaya bahwa kesultanan melanggengkan stereotip yang merugikan dan perampasan budaya, karena para influencer mengambil alih simbol kekayaan dan kekuasaan dari komunitas yang terpinggirkan.
Terlepas dari kritik tersebut, sultanking terus mendapatkan momentum di media sosial, dengan para influencer menemukan cara baru untuk menemukan kembali dan menafsirkan kembali tren tersebut. Mulai dari menggabungkan elemen budaya tradisional hingga mempromosikan kepositifan dan keberagaman tubuh, para influencer menggunakan sultanking sebagai platform untuk mengekspresikan diri dan terhubung dengan pengikut mereka secara lebih mendalam.
Pada akhirnya, sultanking hanyalah salah satu contoh bagaimana influencer media sosial merangkul tren baru dan mendorong batas-batas kreativitas dan ekspresi diri. Seiring dengan terus berkembangnya lanskap digital, akan menarik untuk melihat bagaimana influencer beradaptasi dan berinovasi agar tetap relevan dan berinteraksi dengan audiens mereka dengan cara yang baru dan menarik.
